Peluang Peradaban Islam Dalam The New Normal

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ …

…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,” (QS. Ali Imran [3]: 140)

Disrupsi Peradaban Status Quo

Pandemi Covid 19 telah nyata merobohkan sendi-sendi peradaban global. Hampir seluruh Negara di bumi ini terlihat limbung dan sempoyongan mengantisipasi dan menanggulangi covid 19 dan dampak multisektornya meliputi kesehatan, perekonomian, dan kebudayaan. Korban yang ditimbulkan dalam skala global mencapai lebih dari 5.079.888 orang yang positif terinfeksi Covid 19, 329.179 pasien meninggal dunia dan lebih dari 2.019.721 dinyatakan sembuh (Kompas.com, “Update Corona 21 Mei 2020”). Ini adalah sebuah tragedi kebudayaan terbesar dalam abad ini di tengah capaian-capaian prestisius bidang sains dan tekonologi Negara-negara maju.

Covid 19 telah mengakibatkan anomali dan disrupsi peradaban di seluruh kawasan dunia. Kemajuan sains dan teknologi yang selama ini menjadi simbol kebanggaan peradaban Negara-negara dominan peradaban seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Tiongkok, India, dan Korea seolah tak berkutik dan lumpuh terdampak pandemi Covid 19. 

Melihat fenomena tersebut, sebagian akademisi muslim berpandangan bahwa pandemi Covid 19 adalah potret kegagalan paradigma global yang terpolarisasi dan terhegemoni dalam sistem peradaban yang bercirikan ultraliberalistis, antroposentris, dan materialistik. Namun ada hal yang lebih penting dan fundamental dari sekadar potret tersebut, yaitu apa yang dapat dilakukan oleh dunia Islam pasca pandemi Covid 19 melandai nanti? Apakah dunia Islam memanfaatkannya sebagai momentum untuk bangkit atau justru semakin terpuruk akibat dampak Covid 19?    

Peluang Peradaban Islam

Bagaimana dunia Islam merespons disrupsi peradaban global akibat pandemi Covid 19 tersebut? Wajah peradaban Islam pasca pandemi Covid 19 setidaknya akan tergantung pada tiga penyikapan muslim tentang situasi dan kondisi global umat Islam itu sendiri. Pertama, skeptisisme. Pandangan ini berdasarkan pada asesmen psikologis peradaban Islam yang merasa sudah kehabisan harapan (hopeless) untuk “unjuk gigi” di depan capaian kemajuan peradaban Barat yang sudah tujuh abad menghegemoni peradaban dunia. Dunia Islam nyaris mengalami kebisuan peradaban (speechless of civilization), yaitu kondisi ketika peradaban Islam belum mampu menjadi faktor solusif terhadap krisis multi dimensi yang mendera dunia.

            Selain kawasan Asia Tenggara, hampir semua negara mayoritas muslim masih berkutat pada problematika resolusi konflik. Selain beberapa Negara kawasan Teluk hampir semua negara dengan jumlah penduduk mayoritas muslim masih berada dalam kategori negara berkembang jika tidak dikatakan sebagai negara miskin. Hampir semua negara berpenduduk mayoritas muslim masih menjadi kelas konsumen produk-produk teknologi terapan dari negara-negara Naga Ekonomi seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Tiongkok, India, dan Korea Selatan.

            Sebagai gambaran, di masa pandemi covid 19 ini revolusi teknologi telah berubah cepat. Dunia pendidikan Islam agak gugup menghadapi revolusi metode belajar secara virtual. Dunia Islam belum dapat memberikan solusi teknologi komunikasi di tengah suasana pembatasan jarak dan menghindari kerumunan untuk memutus mata rantai sebaran Covid 19. Pada sektor teknologi kesehatan, riset dan temuan vaksin anti virus Covid 19 juga tidak diinisiasi oleh dunia Islam. Pada sektor ekonomi, umat Islam terlihat sangat dominan terdampak krisis ekonomi akibat kebijakan pembatasan jarak fisik seperti karantina wilayah atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

         Kedua, realisme. Peradaban Islam memang belum mampu berbicara banyak dalam kemajuan sains dan teknologi. Namun, peradaban Islam punya modal dalam memajukan aspek spiritual dan peradaban. Patut dibanggakan bahwa inisiasi pembaruan Islam dan dunia oleh para pembaru pemikiran dunia Islam kontemporer yang mempromosikan nilai-nilai moderasi, perdamaian dunia, kebudayaan emansipatoris, pendidikan profetik banyak berdampak positif bagi kehidupan keagamaan dan kebudayaan global. Misalnya Thariq Ramadhan dengan tawaran konsep Al-Badîl ats-Tsaqafy, Abdul Karim Soroush dengan tawaran Typologies of Islamic Religious, Syeikh Abdullah bin Mahfudh bin Bayyah dengan gerakan Promoting Peace in Moslem Societies, Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Thayyib dengan inisiasinya perihal Human Fraternity Document, dan beberapa intelektual muslim ikonik lainnya termasuk dari Indonesia dengan gerakan Islam Wasathiyah.

Aliran realisme bisa menjadi titik pijak zonasi peradaban global: yaitu keseimbangan aspek spiritual dan material dimana dunia Islam menjadi poros zona peradaban spiritual, sedangkan poros Barat dan Tiongkok adalah pioneer peradaban material. Masing-masing zona peradaban tersebut biarlah berkembang pada poros peradabannya. Meskipun sepertinya terpisah dan terbagi, namun masing-masing zona diharapkan tidak saling menegasikan satu sama lain, tetapi setara, saling suportif, kooperatif, transformatif, saling membutuhkan, dan bekerjasama sebagai konsekwensi etika global.

Aliran realisme ini semestinya dapat menjadi catatan kritis terhadap perjalanan hasil Parlemen Agama-agama Dunia tahun 1993 dengan Hans Kung sebagai ikon sentralnya yang menyuarakan pentingnya Etika Global (the global ethic/weltethos) yang serasa hanya mengajak dialog kepada unsur agama saja dengan agak melihat sebelah mata peran non agama dalam pemetaan kemajuan peradaban global. Padahal dinamika politik global memperlihatkan bahwa faktor interes politik dan ekonomi seringkali memperalat agama dalam rangka mencapai tujuan dehumanisasinya.

Aliran realisme sekaligus menjadi nota rekomendasi dari tesis David M. Wulf yang pernah memetakan tipologi religiusitas suatu kawasan ke dalam tiga mazhab; Anglo-America yang bercorak tradisi William James, Erich Fromm, dan Abraham Maslow; tradisi Jerman yang kental tradisi fenomenologi –interpretatif model Rudolf Otto dan Friederich Heiler; serta tradisi Perancis yang kental dengan aliran Durkheimian dan Theodore Fluorney (David M. Wulf, Psychology of Religious: 1997). Tipologi religiusitas ini belum menempatkan corak psikologi Islam ke dalam posisi yang proporsional. 

Aliran realisme bisa menjadi modal filosofis bagi aliran yang ketiga, yaitu optimisme. Ada hikmah di balik musibah (blessing in disguise). Pandangan ini berangkat dari semangat bagaimana menjadikan krisis peradaban global akibat dampak Covid 19 menjadi peluang bagi peradaban dunia Islam untuk mengejar ketertinggalannya. Inilah saatnya pembuktian bahwa peradaban Islam dengan segala nilainya mampu mewarnai dan bahkan lebih siap menjadi tatanan peradaban baru (the new normal).

Pandangan optimisme ini berangkat dari suatu hadis yang menafsirkan Al-Qur’an Surah Al-Insyirah ayat 5-6. Ketika itu Nabi Saw sedang duduk dan sekelilingnya ada lubang. Beliau bersabda,“Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” Lantas turunlah potongan ayat yang disebutkan di atas (Al-Insyirah: 5-6). (HR. Al-Hakim).

Hasan Al-Bashri mengatakan, para sahabat dahulu berkata, “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” Ibn Katsir menafsirkan tentang kesulitan (al-‘usr) dan kemudahan (al-yusr), bahwa dalam Qur’an Surah Al-Insyirah ayat 5-6, kalimat al-‘asr (kesulitan) berbentuk isim makrifat yang bermakna tertentu (definitive). Sementara redaksi yusr (kemudahan) berbentuk isim nakirah yang bermakna tak tertentu (in-definitive). Artinya kemudahan akan lebih banyak dibandingkan kesulitan. Dunia Islam dinilai memiliki modal profetik-perennial dalam membangun the new normal yang lebih kompatibel.     

Penganut aliran optimisme lebih melihat pandemi Covid 19 ini dengan cara pandang mengambil hikmah di balik musibah (blessing in disguise). Jika diamati dengan lebih seksama, terjadinya pandemi Covid 19 di antaranya adalah adanya kesalahan tata kelola lingkungan secara global sehingga merusak ekosistem bumi. Bisa juga disebabkan karena melencengnya tata nilai peradaban manusia yang dominan ke arah individualisme-ultra liberal dan permisif sehingga mencerabut dimensi religius sebagai kodrat hidup kemanusiaan berdimensi global yang tidak dapat dilepaskan dari konsekwensi interelasi dan kohesi sosial (mondial society). Din Syamsuddin menyebutnya dengan kerusakan global yang bersifat akumulatif (accumulative global damage).

Dunia Islam memiliki modal perenial dalam membangun the new normal yang lebih kompatibel terhadap hikmah di balik pandemik Covid 19. Aliran optimism meyakini bahwa the new normal akan melirik peradaban Islam melalui tata nilai dan ajaran di sektor ibadah (fiqh), teologis (aqidah), maupun solidaritas sosial (phylantropi). Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin telah memulainya dengan optimisme bahwa Fiqih Islam dapat menjadi solusi penyelesaian pandemi Covid 19 (Fiqih New Normal). Pergeseran suatu poros peradaban dari bipolar ke multipolar untuk keadilan sebagaimana sinyalemen Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 140 bisa saja terwujud dalam iklim the new normal pasca pandemi Covid 19 nanti.  

Keyakinan ini semakin memperkuat analisis Philips Jenkins yang pernah memprediksi bahwa agama masa depan adalah Islam. Alasan Jenkins ada dua, yaitu usia hidup pemeluk Islam relatif lebih panjang karena didominasi oleh usia milenial, dan grafik pertumbuhan pemeluk Islam lebih cepat dibandingkan agama lainnya dengan laju pertumbuhan sekitar 22,5 persen. Sehingga  diperkirakan pada tahun 2050 penganut muslim mencapai 27 persen dari seluruh penduduk dunia. (Slamet Effendy Yusuf & Arif Fahrudin: 2013).

Protokol kesehatan pencegahan Covid 19 seperti sering mencuci tangan pakai sabun (hand washing), isolasi wilayah (partial isolation), karantina wilayah (lockdown) menjaga jarak fisik sehat (physical distancing), mengenakan masker saat flu sebagai kunci penting dalam pencegahan penularan Covid 19 banyak dijumpai dalam tuntunan fikih Islam. Misalnya tatacara membersihkan dan mensucikan tubuh (thaharah) meliputi wudhu, mandi (ghusl), bersuci dari kotoran yang keluar dari tubuh (istinja’) yang meniscayakan seorang muslim seyogyanya selalu berpola hidup bersih bagi tubuh dan lingkungannya dengan material air sebagai medium inti (QS. Al-Maidah: 6). Wudhu akan menjaga kebersihan daerah wajah dan tangan seorang muslim dari kotoran. Islam juga memiliki tuntunan etika saat seorang muslim batuk dan bersin agar tidak merugikan kesehatan orang di sekitarnya.

Islam memiliki konsep karantina wilayah (lockdown) saat menghadapi persebaran wabah penyakit. Sebagaimana hadis Nabi Saw,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari) 

 Dalam hal protokol baju pelindung diri yang dikenakan para tenaga medis pasien Covid 19, Islam juga memiliki konsep melindungi badan dari paparan residu dan bakteri yang dikenal dengan konsep menutup aurat (satrul aurat) yang di dalamnya ada tuntunan seperti mengenakan jilbab, kerudung dan sejenisnya (QS. Al-Ahzab: 59). Selain hikmah fikih, konsep satrul aurat juga bermakna tasawuf-spiritual.

Islam juga memiliki konsep menjaga jarak (physical distancing). Misalnya konsep al-mahram yang mengatur pelarangan saling bersentuhan antar fisik bagi mereka yang bukan termasuk keluarga atau saudara inti. (QS. An-Nisa: 23-24). Konsep al-mahram sangat berkontributif bagi upaya menjaga jarak sehat antar orang untuk memutus kemungkinan manusia sebagai transmitor Covid 19.  

Kebijakan “jaring pengaman” sosial dalam penanganan korban dampak ekonomi dari Covid 19 juga banyak ditemukan dalam konsep filantropis Islam (social justice) seperti zakat, infak, sedekah, wakaf agar terwujud solidaritas ekonomi dan kesejahteraan bersama antara yang kaya dan dhuafa (QS. At-Taubah: 103). Dalam Islam, konsep solidaritas kemanusiaan dan kelekatan sosial (social bonding) adalah nilai intrinsik yang membentuk budaya gotong-royong, saling menolong (at-ta’awun), saling mengasihi (at-tarahum). Islam juga memiliki konsep menutup aurat (satrul aurat) seperti jilbab, kerudung, sorban (QS. Al-Ahzab: 59)   

Dalam situasi pandemi Covid 19, nilai-nilai intrinsik Islam tersebut secara faktual menjadi acuan protokol kesehatan dalam penanggulangan Covid 19. Sehingga antara ajaran Islam dan problematika zaman berupa pandemi Covid 19 berada dalam titik temu yang bersifat solusif dan kompatibel.

Catatan Menyongsong The New Normal

Usai pandemi Covid 19, tatanan dunia diyakini akan banyak melirik Islam. Dalam konteks ini, Islam dalam bingkai universal-non parsial dinilai mampu menawarkan the new normal. Grafik pemeluk baru Islam (muallaf) diprediksi semakin memperkuat tesis Jenkins bahwa Islam adalah agama masa depan. Dalam konteks inilah, dunia Islam seharusnya sudah menyiapkan diri akan dibawa ke mana Islam masa depan. Dan itu harusnya sudah dimulai dari sekarang.

Penulis berpendapat, peradaban Islam dengan demikian memiliki peluang besar untuk mewarnai “tatanan baru” (the new normal) pasca pandemi Covid 19. Namun, tentunya ekspektasi tersebut harus disertai dengan beberapa catatan besar agar ekspektasi tersebut tidak hanya sekadar utopia.

Pertama, menguatnya komitmen persaudaraan (brotherhood) di dunia Islam yang meliputi komitmen persaudaraan sesama muslim (ukhuwah bayna al-muslimin), persaudaraan sesama komponen bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan sesama umat manusia (ukhuwah insaniyah). Kode Etik Ukhuwah yang telah dihasilkan oleh Majelis Ulama Indonesia sangat fundamental dan praksis untuk dijadikan panduan dan bimbingan. (Wantim MUI: 2015). Komitmen persaudaraan ini hendaknya menempati skala prioritas mengalahkan segala sengkarut perbedaan mazhab dan afiliasi politik umat Islam. Stabilitas harmoni hubungan antar masyarakat muslim berskala local, nasional, regional, maupun global mutlak dijadikan agenda percepatan konsolidasi generasi muslim lintas sektoral.      

Kedua, kemampuan dunia Islam dalam pembuktian bahwa dirinya mampu keluar dari sengkarut problematika peradaban yang multikompleks. Islam hendaknya mampu menjadi role model solusi krisis peradaban global seperti krisis lingkungan hidup, krisis sumber daya alam (QS. Al-Qashash: 77), dan krisis kemanusiaan (QS. Al-Hujurat: 10). Generasi muslim nantinya hendaknya memiliki manajemen risiko sebagai langkah-langkah mitigatif dan resolusif terhadap permasalahan yang timbul di dunia muslim.  

Ketiga, pembuktian dunia Islam sebagai motor inovasi kebudayaan. Dunia Islam mampu menjadi trend setter riset dan penemuan teknologi kontemporer multi sektor seperti teknologi industri ramah lingkungan, teknologi pangan yang menyehatkan, teknologi informatika yang telah “melipat dunia” menjadi ruang lingkup kecil, cepat, dan langsung (interface word), dan teknologi kesehatan yang mampu membuat usia harapan hidup umat manusia menjadi lebih lama. Teknologi perdamaian yang membuat seluruh penduduk bumi terlindungi hak-hak dasarnya seperti hak rasa aman. Inilah yang diharapkan oleh Al-Qur’an bahwa sejatinya umat Islam menjadi saksi kemajuan peradaban dunia (syuhada’ ‘alan nas) (QS. Al-Baqarah: 143).

Ketiga prasyarat di atas adalah minimalitas modal peradaban Islam dalam menyongsong the new normal. Sejatinya telah terjadi konformitas langkah peradaban antara Islam dan agama-agama lainnya ketika Pandemi Covid 19 telah menunjukkan runtuhnya antroposentrisme dan menguatnya religiusitas. Sehingga, dunia pasca pandemi Covid 19 sejatinya sedang kembali menuju tata peradaban yang berpusat kepada tuntunan Tuhan namun disertai dengan dinamika yang mendewasakan agama-agama di pentas sejarah masa lampau dan kini. Sehingga tampilnya peradaban religius di pentas the new normal termasuk Islam di dalamnya adalah dalam format yang universal-non parsial, lebih dewasa, arif, dan tetap mengakomodir dimensi kemanusiaan yang tidak kontradiktif dengan tuntunan luhur agama. Wallahu a’lamu bi ash-shawab.

Oleh: Arif Fahrudin

(Sekretaris Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia / LPBKI-MUI)

About Wasathi Pusat

Check Also

The Secrets Of Rich And Famous Writers

Don’t act so surprised, Your Highness. You weren’t on any mercy mission this time. Several …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *